Sesampaiku di Kampung Setelah Tsunami - Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, malam harinya kami sampai di kampung, tepatnya di Geudong Pase, tempat kelahiranku. Malam itu kami sampai ke rumah nenek, kira-kira kami sampai kesana pukul 23.00, karena seingat saya memang nenek saya sudah tidur. Ketika kami sampai nenek menyambut kami dengan penuh rasa syukur, karena memang orang kampung kami berpikir bahwa karena sangat banyak korban jiwa dalam peristiwa Tsunami maka ada kemungkinan kami juga ikut menjadi korban, Tetapi Alhamdulillah Allah masih melindungi kami sekeluarga.
Karena di kampung saya itu, rata-rata tetangga itu saudara, karena mungkin di rumah pertama itu rumah adik nenek saya, mungkin rumah kedua rumah adik ibu saya, mungkin rumah ketiga itu siapalah .. yang pasti sangat berdekatan, maka malam itu ketika kami sampai keluarga atau saudara kami yang lain juga ikut berkumpul di rumah nenek saya untuk menyambut kami. Mereka juga ikut mendengar cerita kami bagaimana detail peritiwa dahsyat itu dan menceritakan hal lainnya yang menyangkut dengan kejadian itu.
Setelah beberapa hari di kampung, dan sudah mulai sekolah, saya memutuskan untuk masuk sekolah disana, asiknya sekolah disana itu perginya jalan kaki karena memang jarak sekolahnya itu tidak jauh dari rumah nenek saya, selain sekolah saya juga masuk pengajian disana, dan Alhamdulillah saya bisa Tamat Iqra di kampung, dan ketika itu saya kelas 4 SD. Memang kehidupan disana cukup menyenangkan, karena suasana nya masih sejuk dan banyak pepohonan, saya juga pernah membantu nenek saya menanam padi dan itu memang pengalaman berharga bagi saya, serta dapat menumbuhkan rasa tahu bagaimana susahnya tanam padi dan dalam waktu yang tidak sedikit, jadi kita bisa tahu dan menghargai jasa para petani yang sangat berjasa dalam hal kebutuhan makhluk hidup yang ada di permukaan bumi ini.
Ketika musim Layang, sangat seru.. saya dan kawan-kawan itu buat layang sama-sama, ada yang buat layang Tokong, layang kleung, layang buleun dan masih banyak lagi, itu kami terbangkan ada di lapangan bola dan ada juga yang di tengan persawahan. Yang asiknya ketika ada orang yang meluncurkan uang 100.000 atau 50.000 ke atas layang melalui talinya, dan ketika uang sudah naik ke atas maka akan disentak hingga uang akan jatuh.. semua orang beramai-ramai mengejar uang itu, dan memang jatuhnya itu lumayan jauh. Jadi saya karena masih kecil tidak ikut mengejar.
Oh ya, pengalaman pertama juga, ketika pergi ke Kuburan Malik As Saleh. Ya, Malik As Saleh merupakan Raja di kerajaan Samudra Pasai yang merupakan kerajaan islam pertama di Indonesia, letak kuburannya itu berdekatan dengan laut, tetapi tidak terlalu dekat juga. Yang anehnya kan kuburan itu di pagarin dengan pagar, Rumah disekitar itu rusak ketika di terjang Tsunami 26 Desember lalu, tetapi kuburannya itu masih bagus dan pagar nya pun masih utuh. Benar-benar luar biasa. Mungkin Allah melindungi Makan tersebut ya.
Setelah mungkin sekitar kira-kira 3 bulan saya berada di Kampung, saya pun berencana untuk balik Pulang ke Banda Aceh karena kata Ayah saya suasana di Banda Aceh sudah kembali Pulih dan sudah bisa untuk ditempati. Karena menang ketika saya berada di kampung, Ayah saya pulang ke Banda Aceh untuk membersihkan Rumah dari Puing-puing bekas Tsunami, jadi Ayah saya bolak-balik Banda Aceh – Geudong ketika itu, kurang tahu juga seberapa sering bolak baliknya, hehe.
Kami pun dengan sangat sedih meninggalkan kampung halaman serta balik kembali ke Banda Aceh dan memulai hidup baru dengan barang-barang baru pula karena barang lama rata-rata sudah tidak dapat dipergunakan lagi. Kami pun Pagi itu berangkat menuju ke Banda Aceh.
Karena di kampung saya itu, rata-rata tetangga itu saudara, karena mungkin di rumah pertama itu rumah adik nenek saya, mungkin rumah kedua rumah adik ibu saya, mungkin rumah ketiga itu siapalah .. yang pasti sangat berdekatan, maka malam itu ketika kami sampai keluarga atau saudara kami yang lain juga ikut berkumpul di rumah nenek saya untuk menyambut kami. Mereka juga ikut mendengar cerita kami bagaimana detail peritiwa dahsyat itu dan menceritakan hal lainnya yang menyangkut dengan kejadian itu.
Setelah beberapa hari di kampung, dan sudah mulai sekolah, saya memutuskan untuk masuk sekolah disana, asiknya sekolah disana itu perginya jalan kaki karena memang jarak sekolahnya itu tidak jauh dari rumah nenek saya, selain sekolah saya juga masuk pengajian disana, dan Alhamdulillah saya bisa Tamat Iqra di kampung, dan ketika itu saya kelas 4 SD. Memang kehidupan disana cukup menyenangkan, karena suasana nya masih sejuk dan banyak pepohonan, saya juga pernah membantu nenek saya menanam padi dan itu memang pengalaman berharga bagi saya, serta dapat menumbuhkan rasa tahu bagaimana susahnya tanam padi dan dalam waktu yang tidak sedikit, jadi kita bisa tahu dan menghargai jasa para petani yang sangat berjasa dalam hal kebutuhan makhluk hidup yang ada di permukaan bumi ini.
Ketika musim Layang, sangat seru.. saya dan kawan-kawan itu buat layang sama-sama, ada yang buat layang Tokong, layang kleung, layang buleun dan masih banyak lagi, itu kami terbangkan ada di lapangan bola dan ada juga yang di tengan persawahan. Yang asiknya ketika ada orang yang meluncurkan uang 100.000 atau 50.000 ke atas layang melalui talinya, dan ketika uang sudah naik ke atas maka akan disentak hingga uang akan jatuh.. semua orang beramai-ramai mengejar uang itu, dan memang jatuhnya itu lumayan jauh. Jadi saya karena masih kecil tidak ikut mengejar.
Oh ya, pengalaman pertama juga, ketika pergi ke Kuburan Malik As Saleh. Ya, Malik As Saleh merupakan Raja di kerajaan Samudra Pasai yang merupakan kerajaan islam pertama di Indonesia, letak kuburannya itu berdekatan dengan laut, tetapi tidak terlalu dekat juga. Yang anehnya kan kuburan itu di pagarin dengan pagar, Rumah disekitar itu rusak ketika di terjang Tsunami 26 Desember lalu, tetapi kuburannya itu masih bagus dan pagar nya pun masih utuh. Benar-benar luar biasa. Mungkin Allah melindungi Makan tersebut ya.
Setelah mungkin sekitar kira-kira 3 bulan saya berada di Kampung, saya pun berencana untuk balik Pulang ke Banda Aceh karena kata Ayah saya suasana di Banda Aceh sudah kembali Pulih dan sudah bisa untuk ditempati. Karena menang ketika saya berada di kampung, Ayah saya pulang ke Banda Aceh untuk membersihkan Rumah dari Puing-puing bekas Tsunami, jadi Ayah saya bolak-balik Banda Aceh – Geudong ketika itu, kurang tahu juga seberapa sering bolak baliknya, hehe.
Kami pun dengan sangat sedih meninggalkan kampung halaman serta balik kembali ke Banda Aceh dan memulai hidup baru dengan barang-barang baru pula karena barang lama rata-rata sudah tidak dapat dipergunakan lagi. Kami pun Pagi itu berangkat menuju ke Banda Aceh.



0 komentar:
Post a Comment